Manfaat Buah Woromo Papua

Oleh :  Dr.  Been  Kogoya, SP.  MMA

Buah pada umunya merupakan organ tanaman tempat menyimpan benih dan hasil foto-sintesis. Biji sebagai calon benih yang pada umumnya berada di dalam buah terbentuk melalui proses berikut: setelah tepung sari mendarat dengan tepat pada kepala putik, maka dengan segera dan secara bersam-sama jaringan pembuahan tersebut akan menyerap air dan nutrisi tanaman berupa gula dan akan membentuk tabung sari. Tabungsari akan tumbuh dan menembus tangkai putik (style), menuju ke arah kantung lembaga. Di tempat tersebut sel jantan bertemu dengan sel telur, untuk membentuk zigot. Zigot akan tumbuh menjadi embrio biji.

Pembuahan adalah permulaan dari pertumbuhan ovari yang cepat dan selanjutnya berkembang menjadi biji. Pada biji yang sedang berkembang, perkembangan embrio didahului oleh pertumbuhan endosperm. Perkembangan biji akan diakhiri dengan pemben-tukan integumen pada jaringan ovari induk. Biji akan tumbuh dan berkembang sampai menjadi bentuk yang sempurna dan memenuhi standar untuk menjadi benih. Secara agronomi biji adalah bahan konsumsi yang belum terpilih dalam buah-buahan.

Buah woromo memiliki dua komponen utama sebagai bahan pangan yaitu biji (endosperm) dan daging buah (fleshy receptancle).  Biji memiliki cangkang yang keras melindungi endosperm warna putih bening memiliki aroma yang dan mengandung air dalam buah segar dan rasa guri.  Biji woromo dapat dikonsumsi dalam bentuk fisik segar maupun dibakar.  Biji woromo dibakar mengeluarkan aroma yang khas dan lebih tajam membuat orang lain yang kebiasaan makan biji woromo peransan ingin untuk makan, jika terdapat di pasaran tidak dapat melewatkan dibandingkan orang lain yang tidak tahu makan buah ini.  Perasan orang-orang yang tidak tahu makan buah ini merasa cangkang yang keras dan biji kecil ini untuk apa kami beli, walaupun mereka lihat mama-mama jual di pasar tradisional pegunungan tengah Papua.

Daging buah woromo bermanfaat sebagai bahan pangan dalam kehidupan sehari-hari oleh penduduk asli pegunungan tengah Papua.   Daging buah woromo berwarna putih, putih kekuningan dan orange memiliki aroma yang khas, tekstur halus sampai agak keras, rasa guri.  Daging buah tersebut sampai saat ini tidak pernah di pasarkan, hanya dapat dikonsumsi oleh petani ketika musim panen tiba tinggal di kebun selama 2-3 bulan bertahan hidup dengan daging buah woromo tersebut.  Makan daging buah woromo berlebihan tidak mempunyai efek negatif atau samping, daging buah biasa makan mentah maupun melalui proses barapen.

Daging buah woromo dapat diperoleh dari tandan buah yang di petik masak penuh dari pohon dapat di pisahkan antara kulit ari, biji dan daging buah.  Masing-masing bagian dari tandan buah woromo biji dapat di tempatkan dengan papan penjemuran untuk proses selanjutnya, sedangkan daging buah dapat disiapkan melalui barapen untuk konsumsi pada saat ini.  Daging buah woromo setelah dipisahkan tersendiri dan dibungkus dengan khusus (togoyan engga) atau seludang daun tandan buah woromo yang disedian khusus untuk bungkus dan bungkusan tersebut membentuk bulat diikat dengan daun woromo yang dibelah ukuran tali rafiah lalu diikat sampai selesai pekerjaan bungkus dapat diinjak-injak agar benar-benar terbentuk bundar untuk mempermudah masuk dalam kolam barapen.   Barapen adalah cara masakan tradisional bagi orang Papua lebih khusus penduduk pegunungan tengah Papua.

Daging buah woromo yang telah barapen dapat disediakan untuk konsumsi dalam keluarga sendiri maupun bagi kepada keluarga yang lain.  Daging buah woromo menjadi pilihan alternatif sebagai bahan pangan pada saat musim panen tiba setiap hari petani dilakukan barapen di kebun (hutan) tanaman woromo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim panen.  Jika kita kunjungi di daerah pedesaan pegunungan tengah Papua pada saat musim panen woromo setiap jam 3 sore  ada asap naik di tengah-tengah hutan tentu mereka (petani) melakukan aktivitas barapen daging buah woromo.  Hasil barapen daging buah woromo bisa simpan untuk konsumsi hari berikutnya, karena  dalam proses masak melalui barapen hasilnya baik secara kualitas masak terjamin dan tidak akan basi dan rusak struktur daging buah sebab hasil masak melalui barapen seperti bakar di oven.   Aroma daging buah hasil masak melalui proses barapen lebih harum dan warna kecoklatan seperti roti bakar.  Setiap tandan daging buah woromo dapat dikonsumsi untuk 3 orang dewasa dan untuk anak-anak 4-5 orang, jangan heran memang rata-rata 80%  dalam per 100 gram karbohidrat dalam daging buah woromo merupakan  hasil uji proksimat di Laboratorium Biochem Surabaya dan Laboratorium Teknologi Pangan UB Malang tahun 2013 dan secara lengkap lihat di bagian nilai gizi woromo.

Buah woromo bermanfaat dalam aspek sosial ekonomi, sosial politik dan sosial budaya dalam kehidupan penduduk di pegunungan tengah Papua.   Aspek sosial ekonomi buah woromo  mempunyai nilai jual yaitu buah  dapat ditukar dengan barang lain atau dijual di pasar.  Hasil panen buah sebagai selain sebagai alat pembayaran upah tenaga kerja juga ditukar dengan babi, parang, pasak besi, noken/tas tukar dengan uang kertas.  Transaksi barang terjadi melalui proses tawar menawar antara penawaran dan permintaan bertemu secara bebas dilakukan transaksi barang sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga, sedangkan penukaran dengan uang kertas berlaku di pasar tradisional dimana petani menawarkan hasil produk berupa buah dan biji jual di pasar harga dapat ditentukan oleh petani berdasarkan ukuran besar kecil buah dan rata-rata harga enceran sebesar Rp 5000-10.000 rupiah dan di jual dalam karung 50 kg sebesar Rp 300.000-500.000 rupiah per karung atau noken.  Hal ini buah tanaman pandan menjadi salah satu sumber pendapatan bagi petani woromo di pegunungan tengah Papua.

Aspek sosial budaya buah woromo digunakan sebagai pesta rakyat setiap tahun sekali.   Pesta rakyat dikenal dengan pengasapan buah pandan adalah salah satu kegiatan dilakukan setelah panen diundang semua anggota masyarakat di sekitarnya berkumpul untuk dilakukan berbagai jenis kegiatan.  Dalam pesta pengasapan buah woromo diselenggarakan oleh setiap anggota masyarakat yang memiliki hasil panen yang lebih mengundang kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki tanaman buah woromo dan kekurangan hasil panen untuk datang kerja berbagai bentuk kegiatan seperti pengendalian gulma, pengolahan tanah, pengangkutan papan dan lain-lain.   jenis pekerjaan, tempat dan waktu ditentukan kesepakatan bersama sesuai dengan beban pekerjaan masing-masing penyelenggara dan diumumkan sebelum dua minggu untuk dilakukan penawaran dan permintaan berbagai jenis  kegiatan. Pada hari hanya penyelenggara menyediakan makanan dan minum untuk makan bersama sekaligus bayar tenaga kerja dengan buah woromo.  Buah tanaman woromo sebagai atat pembayaran resmi kepada tenaga kerja di daerah pedesaan pegunungan tengah Papua secara turun temurun sampai saat ini berlaku. Tumbuhan woromo mempunyai peranan penting secara sosial budaya dalam kehidupan masyarakat.  Pesta pengasapan buah woromo adalah salah satu alat untuk pendistribusian pangan dari hasil panen kepada seluruh anggota masyarakat untuk memenuhi ketersediaan dan kecukupan pangan dalam rumah tangga setiap anggota keluarga.

Sedangkan aspek sosial politik setiap orang yang mengadakan pesta pengasapan buah woromo sangat menentukan status sebagai kelapa suku. Sebutan kepala suku dalam masyarakat pegunungan adalah perubahan status sosial seseorang dapat ditentukan melalui pertunjukan kebolehan dalam hal-hal mengurus kepentingan masyarakat. Jabatan kepala suku tidak diperoleh melalui pemungkosan suara melainkan pertunjukan kebolehan seseorang dalam mengurus pangan maupun hal lain bagi kepentingan masyarakat setempat dapat dilihat dari kesuksesan acara dan siapa saja dalam anggota masyarakat mempunyai kesempatan (peluang) yang sama menjadi kepala suku tetapi sangat menentukan pada pertunjukan kebolehan pada acara tertentu.  Dikatakan acara tersebut sukses dilihat dari kelimpahan buah woromo pada acara pesta pengasapan semua orang dapat bagian tanpa terkecuali hasil sisa bisa bawah pulang dari acara ke rumah masing-masing untuk kebutuhan keluarga sampai beberapa hari belum habis dimakan. Sebaliknya sebagian orang tidak dapat bagian merupakan kegagalan penyelengga dan secara otomat tidak bisa jadi kepala suku.  Status kepala suku seseorang tidak dapat digantikan oleh siapapun sampai sesorang itu meninggal dunia dan dapat ditinggalkan kebaikan bagi masyarakat untuk selalu mengingat dalam duka generasi berikutnya.

 Di samping itu buah woromo memiliki daya tarik tersendiri untuk menarik hati orang untuk bertahan hidup tinggal di desanya sendiri atau mau berpindah ke desa yang lain untuk hidup bertahan disana.  Hal ini terjadi karena kecintaan pada pangan buah woromo yang selalu konsumsi dalam kehidupan sehari-hari di desa asal lalu suatu saat harus pindah dari desa asal ke desa yang lain, karena alasan perkawinan pergi ke desa tujuan tersebut dengan pangan buah woromo yang sama menerima keadaan apa adanya tetapi di desa tujuan tersebut tidak mendapatkan lebih sulit biasa kembali ke desa asal mereka dengan berbagai sandiwara supaya dapat diterima kembali oleh masyarakat desa asal untuk perkawinan masuk dengan laki-laki di desa asalnya atau tawar menawar dengan orang tua melakukan perjanjian bahwa tetap kamu pergi ke desa tujuan perkawinanmu tetapi musim buah woromo kamu datang ambil buah woromo dengan tunjukkan pohon ini milikmu setiap musim tetap datang ambil.  Jadi salah satu cara distribusi pangan buah woromo melalui hubungan perkawinan ke desa-desa yang tidak memiliki kebun tanaman woromo.

Buah woromo sangat mempengaruhi dalam penentuan perkawinan suku-suku di pegunungan tengah Papua.   Untuk mendapatkan pangan buah woromo secara politik menawarkan anak gadis menikahkan dengan anak pemilik kebun tanaman woromo atau gadis sendiri memilih alasan sehari-hari akan pangan woromo.   Buah woromo tidak sebagai alat pembayaran maskawin tetapi orang berpikir untuk bertahan hidup sepanjang kehidupan.  Buah woromo sebagai bahan pangan mempunyai nilai jual dalam bentuk kegiatan apapun untuk meringankan beban pekerjaan keluarga seperti pengolahan lahan, pengendalian gulma, pengangkutan papan, kayu bara sampai tukar dengan babi.  Di samping itu masalah areal tanaman buah woromo dapat dipersoalkan tentang kepemilikan lahan, kedua belah pihak cari asal usul lahan areal woromo sampai pihak sebelah menang dalam perkara tersebut.   Penyelesaian terakhir lihat dari aktivitas timbulnya masalah apakah aktif atau pasif dalam pengelola tanaman woromo?  Apabila pemenang perkara adalah pihak aktif kelola tanaman woromo, maka hanya bayar orang kenah luka-luka pada saat perkara sebagai permohon maaf berupa uang/babi tetapi pemenang perkara adalah pihak yang pasif, maka mereka harus membayar ganti rugi tenaga penanaman dan pemeliharaan tanaman woromo dalam kurung waktu tertentu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s